Kamis, 17 April 2014

new task

MAKALAH BIMBINGAN KONSELING ISLAM
ANALISIS TRANSAKSIONAL
 Dosen Pengampu :
Kholilah, M.Pd.I.


  
DISUSUN OLEH :
SINTA RAHMATIL FADHILAH  (UB 121105)
KHUSAINI (UB121099)

JURUSAN BIMBINGAN PENYULUHAN ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SULTHAN THAHA SAIFUDDIN
JAMBI

2014



KATA PENGANTAR
ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$#
            Assalamualaikum.Wr.Wb…………..
            Segala puji bagi Allah yang melimpahkan rahmat-Nya, dan mendidik alam ini serta mengatur dengan sebaik-baiknya. Shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW yang diutus membawa kebenaran yang tidak diragukan lagi.
            Alhamdulillah, pada kesempatan ini saya dapat menyelesaikan Makalah Bimbingan Konseling Islam yang akan membahas tentang Analisis Transaksional. Dan tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada ibu pembimbing mata kuliah ini karena berkat motivasi dan dukungan dari beliau saya dapat belajar mata kuliah ini dengan baik, dan saya pun sangat menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, dan kepada teman-teman sekalian saya sangat berharap kritik dan sarannya terhadap makalah saya ini, agar didalam pembuatan makalah selanjutnya menjadi lebih baik. Dan akhirnya,saya memohon kepada Allah SWT supaya makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Penulis.








DAFTAR ISI

Halaman judul.........................................................................................................i
Kata pengantar.......................................................................................................ii
Daftar isi.................................................................................................................iii
BAB I Pendahuluan...............................................................................................1
BAB II pembahasan...............................................................................................2
BAB III Penutup...................................................................................................9
Kesimpulan............................................................................................................9
Daftar pustaka.......................................................................................................10


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Konseling adalah suatu proses pemberitahuan yang dilakukan oleh konselor kepada konseli dalam suasana yang harmonis, terbuka dan bertanggung jawab dengan maksud agar permasalahan yang dihadapi konseli dapat diatasi.
Teori atau pendekatan dalam konseling terbagi dua kelompok pendekatan yang berorientasi pada aspek-aspek kognitif dan afektif. Di antara pendekatan konseling, pembahasan yang akan dijelaskan dalam makalah ini adalah konseling analisis transaksional karena dapat digunakan untuk terapi individual dengan melibatkan suatu kontrak yang dibuat oleh konseli yang dengan jelas menyatakan tujuan dan arah proses terapi. Sifat contractual proses therapeutic therapies dan konseli untuk menentukan apa yang akan diubah agar perubahan menjadi kenyataan konseli mengubah perilaku malas belajar secara aktif.
B.       Rumusan Masalah
Dari uraian diatas dapat di simpulkan rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
1.      Apa saja macam-macam tipe transaksi ?
2.      Bagaimana proses dan teknik konseling analisis transaksional ?
3.      Apa saja cara penggunaan waktu menurut Eric Berne ?
4.   apakah kelemahan dan kelebihan dari konseling analisis transaksional ?
5.  bagaimana hubungan konselor dan klien dalam konseling analisis transaksional ?
C.      Tujuan Makalah
Dapat di tarik kesimpulan bahwa tujuan dari pembuatan makalah ini  adalah selain untuk memenuhi tugas mata kuliah manajemen pelayanan bimbingan dan konseling juga menjelaskan kepada pembaca mengenai macam-macam tipe transaksi dalam teori analisis transaksional, proses dan teknik konseling analisis transaksional, serta mengemukakan enam cara penggunaan waktu menurut Eric Berne, apakah kelemahan dan kelebihan dari konseling analisis transaksional, bagaimana hubungan konselor dan klien dalam konseling analisis transaksional


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Macam-macam tipe transaksi
Erick berne menyebutkan dalam teori analisis transaksionalnya apa yang dikerjakan atau dikatakan pada orang lain disebut sebagai transaksi. TA ini berusaha untuk menunjukan rasa tanggung jawab pribadi atas tingkah lakunya, pemikiran yang rasional, tujuan-tujuan yang realistis, berkomunikasi secara terbuka, kepuasan dan kewajaran dalam mengadakan kontak dengan orang lain.[1]
Dalam setiap bentuk transaksi, setiap orang mengharapkan sesuatu dari teman transaksinya. Dan apa yang diharapkan serta apa yang diperoleh dalam segala bentuk transaksi itu sangat bergantung dengan status ego mana yang terlibat dalam transaksi tersebut.
Dalam analisis transaksional ada tiga macam tipe transaksi diantaranya yaitu: 
1.      Transaksi komplementer (complementary)
Transaksi komplementer adalah transaksi yang arah transaksi stimulus responnya kosisten, misalnya mendiskusikan kesulitan dunia, berbicara tentang pekerjaan, atau bersenang-senang bersama. Transaksi komplementer adalah transaksi yang orangnya menerima respon dari ego state yang ditujunya.
2.      Transaksi silang (crossed)
Dalam transaksi menyilang, responnya datang dari ego state yang berbeda dengan ego state yang dituju, atau mengarah ke ego state yang tidak mengirimkan stimulus awalnya.
3.      Transaksi terselubung (ulterior)
Transaksi terselubung adalah apabila pembicaraan dari peserta yang keluar tertuju kepada status ego tertentu lawan bicaranya, tetapi di maksudkan untuk status ego yang lain. Transaksi tersembunyi dapat terjadi dalam situasi sehari-hari seperti ketika seorang wiraniaga mengatakan kepada seorang nasabah :” mungkin anda mestinya tidak membeli mantel yang indah dan mahal itu”, sementara pesan psikologisnya adalah, “ ayolah, aku ingin kau membelinya”.

B.     Penataan waktu (Time structuring)
Setiap orang ingin mendapatkan kontak, baik fisik maupun psikis dengan orang lainnya dan setiap orang ingin untuk menggunakan waktunya sebaik-baiknya sepanjang hidupnya. Dalam analisis transaksional Berne mengemukakan enam cara menggunakan waktu, diantaranya[2] :
1.      Withdrawal (menarik diri )
Penarikan diri yang dimaksud adalah suatu keadaan dimana seseorang sama sekali tidak mau mengadakan konsultasi dengan orang lain. Atau dengan kata lain orang dapat menarik diri atau mengundurkan diri dari orang lain dengan jalan menyendiri atau mengisolir diri secara fisik maupun psikis, misalnya melamun, berfantasi.
2.      Rituals
Suatu rangkain transaksi yang diatur secara sosial dimana sudah ada suatu aturan tertentu dari stimulus dan respon. Seperti ucapan selamat pagi, apa kabar, terima kasih.
3.      Pastimes
Tujuan yang terjadi adalah untuk pengisian waktu luang. Sedangkan objeknya adalah kegiatan-kegiatan yang tidak mengandung bahaya, misalnya membicarakan masalah olahraga, mobil, mode, anak dan politik.
4.      Aktifitas
Aktifitas sering disebut kerja yaitu mengerjakan tugas-tugas tertentu yang sebelumnya telah direncanakan tentang ketentuan-ketentuannya. Hal ini dilakukan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan biologis atau psikologis.
5.       Games
Suatu rangkaian transaksi yang ruang geraknya menuju kearah yang jelas dan dapat diramal sebelumnya, serta terjadi secara berulang-ulang dan dangkal, terselubung dan komplementer. Permainan sering kali menimbulkan kesulitan dalam kontak sosial serta menghalangi hubungan yang bersifat interpersonal terbuka, jujur dan intim.
6.      Intimacy
Intimacy merupakan rangkaian transaksi yang cukup sederhana yang menyebabkan terjadinya hubungan interpersonal yang paling dalam. Intimasi (keakraban) berlangsung dengan penuh kehangatan, kelembutan, afeksi dan kasih sayang, serta merupakan pertukaran ekspresi aktif yang keluar dari diri seseorang.

C.     Teknik Konseling
Dalam konseling yang menggunakan pendekatan analisis transaksional duginakan teknik tertentu. Teknik yang dipergunakan terdiri dari empat tahap. Tahap-tahap itu diantaranya[3] :
1.      Analisis Struktur (structural analysis)
Menjelaskan kepada klien bahwasanya kita sebagai indvidu mengemban tiga ego state dan menjelaskan tentang ego state itu satu persatu, sehingganya individu itu sadar ego state yang mana yang lebih dominan dalam dirinya. Dengan mengetahui struktur ego state konseli, akan diketahui masalah yang dihadapi konseli. Bila konseli dominan menggunakan ego state A masalah yang dihadapinya kurngnya rasa pecaya diri atau dipandang rendah orang lain. Bila O yang dominan maka konseli tengah ditakuti, dijauhi, disisihkan atau diasingkan orang lain.

2.      Analisis Transaksi (transactional analysis)
Transaksi antara konselor – konseli pada hakekatnya adalah tranasksi antar status ego keduanya. Konselor menganalisa status ego yang terlihat dari respons atau stimulus konseli. Dengan orang lain Baik dari kata-kata yang diungkapkan konseli, maupun dengan bahasa non verbal. Data atau informasi yang diperoleh dari transaksi dijadikan konselor untuk bahan analisis atau problem yang dihadapi konselor. Konselor menganalisis pola transaksi dalam kelompok, sehingganya konselor dapat mengetahui ego state yang mana yang lebih dominan dan apakah ego state yang ditampilkan tersebut sudah tepat atau  belum.
3.      Analisis Mainan (game analysis)
Analisis mainan adalah analisis hubungan transaksi yang terselubung antara Konseli dengan konselor atau dengan Lingkungannya. Mungkin konseli dalam transaksinya sering mengumpulkan “kupon emas atau kupon Coklat” (perasaan menang atau perasaan kalah). Bila konseli dalam games sering berperan sebagai pemenang, maka ada kemungkinan ia menjadi amat takut sewaktu-waktu akan menerima kopon cokelat yang banyak. Konselor menganalisis suasana permainan yang diikuti oleh konseli untuk mendapat sentuhan, setelah itu dilihat apakah konseli mampu menanggung resiko atau malah bergerak kearah resiko yang tingkatnya lebih rendah.
4.      Analisis Skript (script analysis)
Analisis Skript ini merupakan usaha konselor yang terakhir, dan diperlukan mengenal proses terbentuknya skript yang dimiliki klien. Analisis skript ini hendaknya sampai menyelidiki transaksi seseorang sejak masa kecil dan standar sukses yang telah ditanamkan orang tuanya. Hal ini dilakukan apabila konselor sudah meyakini bahwasanya kliennya terjangkiti posisi hidup yang tidak sehat.


D.    Hubungan Konselor – Klien
Pendekatan kontrak dengan jelas menyiratkan suatu tangguang jawab bersama. Dengan berbagi tanggung jawab bersama konselor, klien menjadi rekan treatment-nya. Konselor tidak melakukan sesuatu kepada klien sementara klien itu pasif. Akan tetapi, baik konselor maupun klien harus aktif dalam kegiatan konseling tersebut. Ada beberapa implikasi yang menyangkut hubungan konselor dan klien, yaitu[4]:
1.         Tidak ada jurang pengertian yang tidak bisa dijembatani di antara konselor dan klien. Konselor dan klien berbagi kata-kata dan konsep-konsep yang sama, dan keduanya memiliki pemahaman yang sama tentang situasi yang dihadapi.
2.         Klien memiliki hak-hak yang sama dan penuh  dalam konseling.Berarti klien tidak bisa dipaksa untuk menyingkapkan hal-hal yang tidak ingin diungkapkannya. Selain itu pasti klien merasa bahwa dia tidak akan diamati atau direkam di luar pengetahuannya atau tanpa persetujuan darinya.
3.         Kontrak memperkecil perbedaan status dan menekankan persamaan di antara konselor dan klien.











E.     Kelemahan dan Kelebihan
Dengan melihat Konsepsi, penekanan, serta pelaksanaanya, maka ada beberapa kelebihan dan kelemahan dari AT[5].
1.      Kelebihan AT antara lain :
a.       Punya Pandangan Optimis dan Realistis tentang Manusia.
AT memandang manusia dapat berubah bila dia mau. Manusia punya kehendak dan kemauan. Kemauan inilah yang memungkinkan manusia berubah, tidak statis. Sehingga manusia bermasalah sekalipun dapat berubah lebih baik, bila kemauannya dapat tumbuh.
b.      Penekanan Waktu Sekarang dan Di sini.
Tujuan pokok terapi AT adalah mengatasi masalah klien agar dia punya kemampuan dan memiliki rasa bebas untuk menentukan pilihannya. Hal ini dimulai dengan menganalisis interaksinya dengan konselor atau orang lain. Dan itu adalah persoalan interaksi sekarang. Kini dan di sini (here and now).
c.       Mudah Diobservasi.
Pada umumnya teori yang muncul dari laboratorium itu sulit diamati karena itu terlihat abstrak, sehingga kadang-kadang tak jarang pula yang hanya merupakan konstruk pikiran manusia penemunya. Berbeda dengan AT, ajaran Berne tentang status ego ( O, D dan A) adalah konsep yang dapat diamati secara nyata dalam setiap interaksi atau komunikasi manusia.
d.      Meningkatkan Keterampilan Berkomunikasi.
Fokus AT terpusat pada cara bagaimana klien berinteraksi, maka treatment juga mengacu pada interaksi, cara bebicara, kata-kata yang dipergunakannya dalam berkomunikasi. Karena itu, AT tidak hanya berusaha memperbaiki sikap, persepsi, atau pemahamannya tentang dirinya tetapi sekaligus mempunyai sumbangan positif terhadap keterampilan berkomunikasi dengan orang lain. Hal semacam ini tidak dimilliki oleh pendekatan lainnya.
2.      Kelemahan yang dimiliki AT antara lain :
a.       Kurang Efisien terhadap Kontrak Treatment
AT mengharapkan, kontrak treatment antara konselor-klien harus terjadi antara status ego Dewasa-dewasa. Artinya menghendaki bahwa klien mengikat kontrak secara realistis. Tetapi dalam kenyataannya, cukup banyak ditemui bahwa banyak klien yang punya anggapan jelek terhadap dirinya, atau tidak realistis. Karena itu, sulit tercapainya kontrak, karena ia tidak dapat mengungkapkan tujuan apa yang sebenarnya diinginkannya. Sehingga memerlukan beberapa kali pertemuan. Hal semacam ini dianggap tidak efisien dalam pelaksanaannya.
b.      Subyektif dalam Menafsirkan Status Ego.
Apakah ungkapan klien termasuk status Ego Orang tua, Dewasa, atau Anak-anak merupakan penilaian yang subyektif. Mungkin dalam hal yang ekstrim tidak ada perbedaan dalam menafsirkannya. Tapi bila pernyataan itu mendekati dua macam status ego akan sulit ditafsirkan, dan mungkin berbeda antara orang yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan dalam memahami status ego ini, menyebabkan sulitnya kesamaan dalam menakar egogram klien.







BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

A.    Macam-macam tipe transaksi
1.      Transaksi komplementer (complementary)
2.      Transaksi silang (crossed)
3.      Transaksi terselubung (ulterior)
B.       Penataan waktu (Time structuring)
1.      Withdrawal (menarik diri )
2.      Rituals
3.      Pastimes
4.      Aktifitas
5.      Games
6.      Intimacy
C.      Teknik Konseling
1.      Analisis Struktur (structural analysis)
2.      Analisis Transaksi (transactional analysis)
3.      Analisis Mainan (game analysis)
4.      Analisis Skript (script analysis)
D.    Hubungan Konselor – Klien
Tidak ada jurang pengertian yang tidak bisa dijembatani di antara konselor dan klien, klien memiliki hak-hak yang sama dan penuh  dalam konseling
E.     Kelemahan dan Kelebihan
1.      Kelebihan AT antara lain
a.       Punya Pandangan Optimis dan Realistis tentang Manusia.
b.      Mudah Diobservasi.
c.       Meningkatkan Keterampilan Berkomunikasi.
2.      Kelemahan yang dimiliki AT antara lain :
c.       Kurang Efisien terhadap Kontrak Treatment
d.      Subyektif dalam Menafsirkan Status Ego.
DAFTAR PUSTAKA
Corey, Gerald, Teori dan Praktek Konseling  dan Psikoterapi, Bandung : PT Eresco, 1995
Sukardi, Dewa Ketut, Bimbingandan Konseling di Sekolah Jakarta :PT Rineka Cipta, 2008





[1]Sukardi, Dewa Ketut, Bimbingandan Konseling di Sekolah (Jakarta :PT Rineka Cipta, 2008) hlm 164
[2]Sukardi, Dewa Ketut, Bimbingandan Konseling di Sekolah (Jakarta :PT Rineka Cipta, 2008) hlm 160
[3]Sukardi, Dewa Ketut, Bimbingandan Konseling di Sekolah (Jakarta :PT Rineka Cipta, 2008) hlm 170
[4]Corey, Gerald, Teori dan Praktek Konseling  dan Psikoterapi (Bandung : PT Eresco, 1995) hlm 174