MAKALAH BIMBINGAN
KONSELING ISLAM
“ANALISIS
TRANSAKSIONAL”
Dosen Pengampu :
Kholilah,
M.Pd.I.
DISUSUN OLEH :
SINTA RAHMATIL FADHILAH
(UB 121105)
KHUSAINI
(UB121099)
JURUSAN BIMBINGAN
PENYULUHAN ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI SULTHAN THAHA SAIFUDDIN
JAMBI
2014
KATA PENGANTAR
ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOÏm§9$#
Assalamualaikum.Wr.Wb…………..
Segala puji bagi Allah yang
melimpahkan rahmat-Nya, dan mendidik alam ini serta mengatur dengan
sebaik-baiknya. Shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW yang diutus membawa kebenaran
yang tidak diragukan lagi.
Alhamdulillah, pada kesempatan ini
saya dapat menyelesaikan Makalah Bimbingan Konseling Islam yang akan
membahas tentang Analisis Transaksional. Dan tak lupa saya ucapkan
terima kasih kepada ibu pembimbing mata kuliah ini karena berkat motivasi dan
dukungan dari beliau saya dapat belajar mata kuliah ini dengan baik, dan saya
pun sangat menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan, dan kepada teman-teman sekalian saya sangat berharap kritik dan sarannya
terhadap makalah saya ini, agar didalam pembuatan makalah selanjutnya menjadi
lebih baik. Dan akhirnya,saya memohon kepada Allah SWT supaya makalah ini
bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Penulis.
DAFTAR ISI
Halaman
judul.........................................................................................................i
Kata
pengantar.......................................................................................................ii
Daftar
isi.................................................................................................................iii
BAB I
Pendahuluan...............................................................................................1
BAB II
pembahasan...............................................................................................2
BAB III
Penutup...................................................................................................9
Kesimpulan............................................................................................................9
Daftar
pustaka.......................................................................................................10
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Konseling adalah suatu proses
pemberitahuan yang dilakukan oleh konselor kepada konseli dalam suasana yang
harmonis, terbuka dan bertanggung jawab dengan maksud agar permasalahan yang
dihadapi konseli dapat diatasi.
Teori atau pendekatan dalam
konseling terbagi dua kelompok pendekatan yang berorientasi pada aspek-aspek
kognitif dan afektif. Di antara pendekatan konseling, pembahasan yang akan
dijelaskan dalam makalah ini adalah konseling analisis transaksional karena
dapat digunakan untuk terapi individual dengan melibatkan suatu kontrak yang
dibuat oleh konseli yang dengan jelas menyatakan tujuan dan arah proses terapi.
Sifat contractual proses therapeutic therapies dan konseli untuk
menentukan apa yang akan diubah agar perubahan menjadi kenyataan konseli
mengubah perilaku malas belajar secara aktif.
B.
Rumusan Masalah
Dari uraian diatas dapat di simpulkan rumusan masalahnya adalah
sebagai berikut :
1.
Apa
saja macam-macam tipe transaksi ?
2.
Bagaimana
proses dan teknik konseling analisis transaksional ?
3.
Apa
saja cara penggunaan waktu menurut Eric Berne ?
4. apakah kelemahan dan kelebihan dari konseling analisis transaksional ?
5. bagaimana hubungan konselor dan klien dalam konseling analisis transaksional ?
C.
Tujuan Makalah
Dapat
di tarik kesimpulan bahwa tujuan dari pembuatan makalah ini adalah selain untuk memenuhi tugas mata
kuliah manajemen pelayanan bimbingan dan konseling juga menjelaskan kepada
pembaca mengenai macam-macam tipe transaksi dalam teori analisis transaksional,
proses dan teknik konseling analisis transaksional, serta mengemukakan enam
cara penggunaan waktu menurut Eric Berne, apakah kelemahan dan kelebihan dari konseling analisis transaksional, bagaimana hubungan konselor dan klien dalam konseling analisis transaksional
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Macam-macam tipe transaksi
Erick berne menyebutkan dalam teori analisis transaksionalnya apa
yang dikerjakan atau dikatakan pada orang lain disebut sebagai transaksi. TA
ini berusaha untuk menunjukan rasa tanggung jawab pribadi atas tingkah lakunya,
pemikiran yang rasional, tujuan-tujuan yang realistis, berkomunikasi secara
terbuka, kepuasan dan kewajaran dalam mengadakan kontak dengan orang lain.[1]
Dalam
setiap bentuk transaksi, setiap orang mengharapkan sesuatu dari teman
transaksinya. Dan apa yang diharapkan serta apa yang diperoleh dalam segala
bentuk transaksi itu sangat bergantung dengan status ego mana yang terlibat
dalam transaksi tersebut.
Dalam analisis transaksional ada
tiga macam tipe transaksi diantaranya yaitu:
1.
Transaksi
komplementer (complementary)
Transaksi komplementer adalah
transaksi yang arah transaksi stimulus responnya kosisten, misalnya
mendiskusikan kesulitan dunia, berbicara tentang pekerjaan, atau bersenang-senang
bersama. Transaksi komplementer adalah transaksi yang orangnya menerima respon
dari ego state yang ditujunya.
2.
Transaksi
silang (crossed)
Dalam transaksi menyilang, responnya
datang dari ego state yang berbeda dengan ego state yang dituju, atau mengarah
ke ego state yang tidak mengirimkan stimulus awalnya.
3.
Transaksi
terselubung (ulterior)
Transaksi terselubung adalah apabila
pembicaraan dari peserta yang keluar tertuju kepada status ego tertentu lawan
bicaranya, tetapi di maksudkan untuk status ego yang lain. Transaksi
tersembunyi dapat terjadi dalam situasi sehari-hari seperti ketika seorang
wiraniaga mengatakan kepada seorang nasabah :” mungkin anda mestinya tidak
membeli mantel yang indah dan mahal itu”, sementara pesan psikologisnya adalah,
“ ayolah, aku ingin kau membelinya”.
B.
Penataan waktu (Time structuring)
Setiap orang ingin mendapatkan
kontak, baik fisik maupun psikis dengan orang lainnya dan setiap orang ingin
untuk menggunakan waktunya sebaik-baiknya sepanjang hidupnya. Dalam analisis
transaksional Berne mengemukakan enam cara menggunakan waktu, diantaranya[2] :
1.
Withdrawal (menarik diri )
Penarikan diri yang dimaksud adalah
suatu keadaan dimana seseorang sama sekali tidak mau mengadakan konsultasi
dengan orang lain. Atau dengan kata lain orang dapat menarik diri atau
mengundurkan diri dari orang lain dengan jalan menyendiri atau mengisolir diri
secara fisik maupun psikis, misalnya melamun, berfantasi.
2.
Rituals
Suatu rangkain transaksi yang diatur
secara sosial dimana sudah ada suatu aturan tertentu dari stimulus dan respon.
Seperti ucapan selamat pagi, apa kabar, terima kasih.
3.
Pastimes
Tujuan yang terjadi adalah untuk
pengisian waktu luang. Sedangkan objeknya adalah kegiatan-kegiatan yang tidak
mengandung bahaya, misalnya membicarakan masalah olahraga, mobil, mode, anak
dan politik.
4.
Aktifitas
Aktifitas sering disebut kerja yaitu
mengerjakan tugas-tugas tertentu yang sebelumnya telah direncanakan tentang
ketentuan-ketentuannya. Hal ini dilakukan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan
biologis atau psikologis.
5.
Games
Suatu rangkaian transaksi yang ruang
geraknya menuju kearah yang jelas dan dapat diramal sebelumnya, serta terjadi
secara berulang-ulang dan dangkal, terselubung dan komplementer. Permainan
sering kali menimbulkan kesulitan dalam kontak sosial serta menghalangi
hubungan yang bersifat interpersonal terbuka, jujur dan intim.
6.
Intimacy
Intimacy merupakan rangkaian transaksi yang cukup sederhana yang menyebabkan
terjadinya hubungan interpersonal yang paling dalam. Intimasi (keakraban)
berlangsung dengan penuh kehangatan, kelembutan, afeksi dan kasih sayang, serta
merupakan pertukaran ekspresi aktif yang keluar dari diri seseorang.
C.
Teknik Konseling
Dalam konseling yang menggunakan
pendekatan analisis transaksional duginakan teknik tertentu. Teknik yang
dipergunakan terdiri dari empat tahap. Tahap-tahap itu diantaranya[3] :
1.
Analisis
Struktur (structural analysis)
Menjelaskan kepada klien bahwasanya
kita sebagai indvidu mengemban tiga ego state dan menjelaskan tentang ego state
itu satu persatu, sehingganya individu itu sadar ego state yang mana yang lebih
dominan dalam dirinya. Dengan mengetahui struktur ego state konseli, akan
diketahui masalah yang dihadapi konseli. Bila konseli dominan menggunakan ego
state A masalah yang dihadapinya kurngnya rasa pecaya diri atau dipandang
rendah orang lain. Bila O yang dominan maka konseli tengah ditakuti, dijauhi,
disisihkan atau diasingkan orang lain.
2.
Analisis
Transaksi (transactional analysis)
Transaksi antara konselor – konseli
pada hakekatnya adalah tranasksi antar status ego keduanya. Konselor
menganalisa status ego yang terlihat dari respons atau stimulus konseli. Dengan
orang lain Baik dari kata-kata yang diungkapkan konseli, maupun dengan bahasa
non verbal. Data atau informasi yang diperoleh dari transaksi dijadikan
konselor untuk bahan analisis atau problem yang dihadapi konselor. Konselor
menganalisis pola transaksi dalam kelompok, sehingganya konselor dapat mengetahui
ego state yang mana yang lebih dominan dan apakah ego state yang ditampilkan
tersebut sudah tepat atau belum.
3.
Analisis
Mainan (game analysis)
Analisis mainan adalah analisis
hubungan transaksi yang terselubung antara Konseli dengan konselor atau dengan
Lingkungannya. Mungkin konseli dalam transaksinya sering mengumpulkan “kupon
emas atau kupon Coklat” (perasaan menang atau perasaan kalah). Bila konseli
dalam games sering berperan sebagai pemenang, maka ada kemungkinan ia menjadi
amat takut sewaktu-waktu akan menerima kopon cokelat yang banyak. Konselor
menganalisis suasana permainan yang diikuti oleh konseli untuk mendapat
sentuhan, setelah itu dilihat apakah konseli mampu menanggung resiko atau malah
bergerak kearah resiko yang tingkatnya lebih rendah.
4.
Analisis
Skript (script analysis)
Analisis Skript ini merupakan usaha
konselor yang terakhir, dan diperlukan mengenal proses terbentuknya skript yang
dimiliki klien. Analisis skript ini hendaknya sampai menyelidiki transaksi
seseorang sejak masa kecil dan standar sukses yang telah ditanamkan orang
tuanya. Hal ini dilakukan apabila konselor sudah meyakini bahwasanya
kliennya terjangkiti posisi hidup yang tidak sehat.
D.
Hubungan Konselor – Klien
Pendekatan kontrak dengan jelas
menyiratkan suatu tangguang jawab bersama. Dengan berbagi tanggung jawab
bersama konselor, klien menjadi rekan treatment-nya. Konselor tidak
melakukan sesuatu kepada klien sementara klien itu pasif. Akan tetapi,
baik konselor maupun klien harus aktif dalam kegiatan konseling tersebut. Ada
beberapa implikasi yang menyangkut hubungan konselor dan klien, yaitu[4]:
1.
Tidak
ada jurang pengertian yang tidak bisa dijembatani di antara konselor dan klien.
Konselor dan klien berbagi kata-kata dan konsep-konsep yang sama, dan keduanya
memiliki pemahaman yang sama tentang situasi yang dihadapi.
2.
Klien
memiliki hak-hak yang sama dan penuh dalam konseling.Berarti klien tidak
bisa dipaksa untuk menyingkapkan hal-hal yang tidak ingin diungkapkannya.
Selain itu pasti klien merasa bahwa dia tidak akan diamati atau direkam di luar
pengetahuannya atau tanpa persetujuan darinya.
3.
Kontrak
memperkecil perbedaan status dan menekankan persamaan di antara konselor dan
klien.
E.
Kelemahan dan Kelebihan
Dengan melihat Konsepsi, penekanan, serta pelaksanaanya,
maka ada beberapa kelebihan dan kelemahan dari AT[5].
1.
Kelebihan
AT antara lain :
a.
Punya
Pandangan Optimis dan Realistis tentang Manusia.
AT
memandang manusia dapat berubah bila dia mau. Manusia punya kehendak dan
kemauan. Kemauan inilah yang memungkinkan manusia berubah, tidak statis.
Sehingga manusia bermasalah sekalipun dapat berubah lebih baik, bila kemauannya
dapat tumbuh.
b.
Penekanan
Waktu Sekarang dan Di sini.
Tujuan
pokok terapi AT adalah mengatasi masalah klien agar dia punya kemampuan dan
memiliki rasa bebas untuk menentukan pilihannya. Hal ini dimulai dengan
menganalisis interaksinya dengan konselor atau orang lain. Dan
itu adalah persoalan interaksi sekarang. Kini dan di sini (here and now).
c.
Mudah
Diobservasi.
Pada umumnya teori yang muncul dari laboratorium itu sulit diamati
karena itu terlihat abstrak, sehingga kadang-kadang tak jarang pula yang hanya
merupakan konstruk pikiran manusia penemunya. Berbeda dengan AT, ajaran
Berne tentang status ego ( O, D dan A) adalah konsep yang dapat diamati secara
nyata dalam setiap interaksi atau komunikasi manusia.
d.
Meningkatkan
Keterampilan Berkomunikasi.
Fokus AT terpusat pada cara bagaimana klien berinteraksi, maka
treatment juga mengacu pada interaksi, cara bebicara, kata-kata yang
dipergunakannya dalam berkomunikasi. Karena itu, AT tidak hanya berusaha
memperbaiki sikap, persepsi, atau pemahamannya tentang dirinya tetapi sekaligus
mempunyai sumbangan positif terhadap keterampilan berkomunikasi dengan orang
lain. Hal semacam ini tidak dimilliki oleh pendekatan lainnya.
2.
Kelemahan
yang dimiliki AT antara lain :
a.
Kurang
Efisien terhadap Kontrak Treatment
AT mengharapkan, kontrak treatment antara konselor-klien harus
terjadi antara status ego Dewasa-dewasa. Artinya menghendaki bahwa klien
mengikat kontrak secara realistis. Tetapi dalam kenyataannya, cukup banyak
ditemui bahwa banyak klien yang punya anggapan jelek terhadap dirinya, atau tidak
realistis. Karena itu, sulit tercapainya kontrak, karena ia tidak dapat
mengungkapkan tujuan apa yang sebenarnya diinginkannya. Sehingga memerlukan
beberapa kali pertemuan. Hal semacam ini dianggap tidak efisien dalam
pelaksanaannya.
b.
Subyektif
dalam Menafsirkan Status Ego.
Apakah
ungkapan klien termasuk status Ego Orang tua, Dewasa, atau Anak-anak merupakan
penilaian yang subyektif. Mungkin dalam hal yang ekstrim tidak ada perbedaan
dalam menafsirkannya. Tapi bila pernyataan itu mendekati dua macam status ego
akan sulit ditafsirkan, dan mungkin berbeda antara orang yang satu dengan yang
lainnya. Perbedaan dalam memahami status ego ini, menyebabkan sulitnya kesamaan
dalam menakar egogram klien.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
A.
Macam-macam
tipe transaksi
1.
Transaksi
komplementer (complementary)
2.
Transaksi
silang (crossed)
3.
Transaksi
terselubung (ulterior)
B.
Penataan
waktu (Time structuring)
1.
Withdrawal (menarik diri )
2.
Rituals
3.
Pastimes
4.
Aktifitas
5.
Games
6.
Intimacy
C.
Teknik
Konseling
1.
Analisis
Struktur (structural analysis)
2.
Analisis
Transaksi (transactional analysis)
3.
Analisis
Mainan (game analysis)
4.
Analisis
Skript (script analysis)
D.
Hubungan
Konselor – Klien
Tidak ada jurang pengertian yang tidak bisa dijembatani di antara
konselor dan klien, klien memiliki hak-hak yang sama dan penuh dalam
konseling
E.
Kelemahan
dan Kelebihan
1. Kelebihan AT antara lain
a.
Punya
Pandangan Optimis dan Realistis tentang Manusia.
b.
Mudah
Diobservasi.
c.
Meningkatkan
Keterampilan Berkomunikasi.
2.
Kelemahan
yang dimiliki AT antara lain :
c.
Kurang
Efisien terhadap Kontrak Treatment
d.
Subyektif
dalam Menafsirkan Status Ego.
DAFTAR PUSTAKA
Corey, Gerald, Teori
dan Praktek Konseling dan
Psikoterapi, Bandung : PT Eresco, 1995
Sukardi, Dewa
Ketut, Bimbingandan Konseling di Sekolah Jakarta :PT Rineka Cipta, 2008
Diposkan oleh rymma alief, pada tanggal 16 april 2014 pukul 8.36 wib http://rimaalifiarahmi.blogspot.com/2014/03/psikoterapi-analisis-transaksional.html
[1]Sukardi, Dewa
Ketut, Bimbingandan Konseling di Sekolah (Jakarta :PT Rineka Cipta,
2008) hlm 164
[2]Sukardi, Dewa
Ketut, Bimbingandan Konseling di Sekolah (Jakarta :PT Rineka Cipta,
2008) hlm 160
[3]Sukardi, Dewa
Ketut, Bimbingandan Konseling di Sekolah (Jakarta :PT Rineka Cipta,
2008) hlm 170
[4]Corey, Gerald, Teori
dan Praktek Konseling dan
Psikoterapi (Bandung : PT Eresco, 1995) hlm 174
