Selasa, 07 Januari 2014

TEORI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
“LOPORAN KONSELING INDIVIDUAL”



     DOSEN PENGAMPU :
KHOLILAH

DISUSUN OLEH :
SINTA RAHMATIL FADHILAH
(UB 121105)

JURUSAN BIMBINGAN PENYULUHAN ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SULTHAN THAHA SAIFUDDIN
JAMBI

2014



A.    Identitas Klien

 Nama : keke (nama samaran)
Umur : 19 tahun
Jenis kelamin : perempuan
Alamat sekarang : ma’had al-jami’ah
Asal : jambi
Lulusan : MAN
Jurusan : sastra arab
Semester : III (tiga)

B.     Gambaran Klien

Klien adalah seorang yang cantik, riang, dan energic. Dia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Dia dari keluarga sederhana, dia anak yang cukup pintar dan kreatif.

C.    Masalah Klien

Putus asa dengan kedaan yang tak mengerti dengan pelajaran bahasa arab, dan teman-teman satu kelas seakan acuh tak acuh. Sehingga ingin berhenti kuliah.

D.    Deskripsi masalah

Klien adalah seorang mahasisiwi yang memilih jurusan yang tidak ia minati, apalagi dia lulusan MAN, yang hanya sedikit pengetahuan tentang bahasa arab. sehingga sedikit kesulitan dalam memahami mata kuliah yang dia pilih. Apalagi kondisi teman-tamannya yang kurang memotivasinya. Dia merasa di alienisaikan oleh temannya. Sehingga motivasi dalam dirinya pun seakan hilang.

E.    Faktor Penyebab Masalah

Dari hasil konseling dengan klien dapat di simpulkan Masalah yang di alami klien timbul di karenakan beberapa hal :
a.       Kurangnya pengetahuan klien tentang bahasa arab
b.      Kurangnya motivasi dari lingkungan sekitar
c.       Teman-teman yang tidak bersahaja
d.      Tidak berbagi kesedihan dengan orang-orang terdekatnya

F.     Cara Mengenal Orang Yang Mempunyai Maslah

Ketika menemukan klien yang mengalami putus asa seperti yang saya alami dia biasanya sering mengatakan hal yang ingin dia lakukan. Seperti klien saya sudah beberapa kali mengatakan “saya ingin berhenti kuliah”. Dari situ dapat kita lihat bahwa tidak hanya satu permasalahan yang dia rasakan. Dan dapat juga kita lihat dengan ekspresi emosinya yang kadang-kdang bersemangat dan kadang murung apabila dia sendirian.

G.    Upaya Mengatasi Permasalahan

Setelah tau proses permasalahan yang di alami klien, jadi kita dapat menarik kesimpulan untuk mengatasi permasalahn yang di alami klien. Seperti klien saya yang hilang motivasi dalam dirinya. Yah simple saja. kita sebagai konselor Harus menumbuhkan kembali semangat yang ada dalam diri klien. Seperti menceritakan tentang sesuatu yang mampu dia bangkit kembali.

H.    Pencegahan

Sebagai upaya pencegahan agar masalah ini tidak terjadi lagi. Jadi seseorang itu apabila memutus kan untuk memilih suatu hal, harus yakin dulu. Apakah serasi atau tidak dengan keadaan seorang tersebut. Dan seorang tersebut juga harus mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar, agar lingkungan juga simpati dengan kondisi yang kita alami.

I. Proses Konseling

1.      Proses konseling pertama
Malam senin, 24 novenber 2013. Pukul 21.00-22.00
Lokasi  : di dalam ma’had al-jami’ah
Konselor : hai keke
Klien : iyaa.. (galau)
Kons : duduk sini dulu, muka mu ga enak gitu aku liat.
Klien : aku mau berenti kuliah
Konselor : ha kenapa ?
Klien : ga ada, aku ngerasa bosan aja di ma’ad
kons : bosan kenapa ?
Klien : ga.. aku ga  kuat aja dengan peraturan yang ada..
Kons : aduh, jangan gitu, sia-sia dong perjuangan kita selama 3 semester. Tinggal 1 semester lagi ni. Aku saranin mending kamu batalin aja rencana mu, sayang beasiswa mu. Tidak hanya kamu yang merasakannya, aku juga merasakan kok peraturan ini. Tapi Kita disini berjuang bersama. Anggap aja ini adalah pengorbanan kita menuju sukses.
Klien : iya sih, tapi gimana ya (terlihat memikirkan sesuatu)
kons : tapi kenapa?
Klie : sebenarnya bukan itu aja masalah aku.
Kons : emang masalah kamu apa lagi? Masalah cowo ? atau masalah dengan keluargamu ?
Klien : bukan..
Kons : cerita aja kita kan teman, kalau kamu pendam sendiri nanti jadi beban, mungkin aku bisa bantu.
Klien : iya memang berat banget ni rasanya, aku belum pernah cerita ini ke siapa pun, termasuk orang tuaku, atau pun pacarku
Kons : nah, makanya cerita. Dengan kamu cerita. Beban kamu akan terasa ringan walaupun hanya dengan cerita
Klien : sebenarnya aku tu ga bisa dengan jurusan yang aku pilih, aku nggak mampu dengan jurusan sastra arab itu.
Kons : kamu udah pernah minta ajarin dengan temanmu ke ?
Klien : kamu itu ga tau gimana teman aku.
Kons : emang nya gimana, pelit ya ?
Klien : hmmm lebih lagi, kikir banget. Pelajarannya itu nggak seperti di mahad, yang aku pelajari sekarang  itu lebih mendalam, aku mau berenti aja, aku benar nggak sanggup. Kalau aku tanya sama temen-temen mereka Cuma bilang “ya seperti itu”.
Kons : kenapa kamu ga pindah jurusan, dari pada berenti kuliah. Aku siap bantuin kamu.
Klien : susah sin. Aku tu mau nya bahasa inggris, tapi karena bidik misi ga ada pilihan bahasa inggris, jadinya aku pilih bahasa arab. Waktu milih jurusan dulu aku tu kan ge ngerti. Bahasa nya itu loh islam banget kaya jinayah..
Kons : ga kok, kalau kita usaha pasti ada jalan. Iya.. sama aku juga begitu. Dulu waktu aku mau masuk IAIN aku ga ngerti tu jurusan-jurusan apa maksudnya. Pas ngeliat ada jurusan yang kaya konseling-konseling nya kaya guru BK gitu, itu yang aku pilih. Awalnya berat juga. Sama kaya kamu. Tapi aku yakin itu semua udah ketentuan yang maha Esa.
Klien : jurusan aku ni susah banget sin.
Kons : hmm  emang kalau udah berenti kuliah kamu mau ngapain ? mau nikah ?
Klien :  hahaha, ya ga dong. aku mau kerja, aku udah tanya sama teman ku yang di luar katanya ada penerimaan pegawai negri, aku mau tes dulu.
Kons : nah itu aja kamu baru mau tes, kalau ga keterima gimana ?  pikirin aja lagi, ntar kamu nyesal. Kalau pun kamu diterima, kerja apalah yang akan kamu dapat sedangkan kamu baru taman sekolah. Sedangkan kalau mau mapan itu, setidaknya kita harus sarjana dulu. Lembaga itu nyari orang yang udah ada titlenya.
Klien : aku bingung, tp aku udah coba tetap ga bisa, kalau mata kuliah yang lain aku si fine fine aja, malah kalau lagi ujian mata kuliah yang lain , seperti leadership itu malah teman yang lain minta ajarin aku, karena aku lugu gitu kan, jadinya aku kasih tau aja, sementara giliran ujian pelajar bahasa arab temen-temen seperti tak kenal aku, bahkan ketika aku panggil mereka seolah-olah tuli. Trus kalau mau bagi-bagi kelompok, aku di kasi ama yang kaya aku, yang ga ngerti arab. Trus aku minta ganti, eh malah di cuekin. Giliran mereka yang pintar-pintar semua. Kalau aku yang lagi persentase ga ada yang perhatiin. Ga ada yang nannya sama sekali. Sakit.... (menangis)
Kons : hmm aku ngerti apa yang kamu rasain ke. Sakit banget tu rasanya. Tapi kamu haru tegar.
Klien :iya, ga itu aja mereka itu kalau di dalam kelas seolah-olah ga kenal aku, seperti dina sahabat ku sendiri, kalau dikelas dia seolah ga kenal aku. Mereka hanya mau berteman dengan aku kalau bergaul di luar jadwal kuliah. Kalau didalam kampus aku seolah di asingkan. Apalagi Giliran pelajaran bahasa arab, kalau dosen nanya, mereka bilang “ipeh tu bu ipeh”. Seolah mereka melecehkan aku karna aku ga ngerti tu pelajaran. (menangis)
Kons : kok mereka gitu ya. Aku ngerti banget apa yang kamu rasain. Tapi kamu harus semangat demi masa depan yang indah. Mungkin aja tu teman mu mau kamu berusaha mandiri.
Kilen : mandiri si mandiri. Tapi kalau begitu ceritanya mana aku tahan. itu lah yang membuat aku ga mau kuliah lagi, bahkan aku udah cerita sama ketua jurusan ku, aku bilang “aku mau berenti kuliah karena ga ngerti bahasa arab bu “, dia Cuma bilang “belajar aja yang tekun, yang lain bisa pasti kamu bisa juga”.
Kons : nah betul tu kata kajur mu, coba belajar dengan tekun, buktikan sama mereka yang memandang kamu sebelah mata.
Klien : terus aku gimana ya, aku bingung.
Kons : Coba kamu cerita sama orang tua kamu, mereka adalah tempat cerita yang akan membuat suasana hatimu akan lebih tenang. Insyaallah apa yang mereka katakan adalah yang terbaik untukmu.
Klien : hmm, iya deh nanti aku cerita.
Kons : peh sayang banget kalau kamu berenti kuliah, sia-sia perjungan kamu selama ini, ingat pepatah mengatakan bersakit-sakit dahulu berenang-renang ketepian bersakit sakit dahulu bersenang senang kemudian. Aku percaya kamu pasti bisa.
Klien : sin kadang aku juga menangis di kelas tanpa mereka tau, bahkan aku bikin PM di blackberry aku gambar orang menangis. Kebetulan ada teman satu kelas aku aku ada kontak dengan BM ku, dia nanyain “kenapa kamu kamu bikin PM itu peh” aku jawab “ga ada, iseng aja”. Ah mereka pasti tau maksud PM aku.
Kons : Sebaiknya, itu kamu jadikan motivasi dalam diri kamu peh, buktikan kepada orang yang telah memandangmu sebelah mata bahwa kamu bisa, janga kamu jadikan itu semua alat yang akan membuatmu jatuh. yakin lah jika kamu berusaha semaksimal mungkin kamu pasti bisa. Dan kamu akan lebih awal sukses di bandingkan mereka. Karena usahamu lebih maksimal dari mereka. Kamu kenal tomas alva edison kan. Dia bisa terkenal gini karena dia selalu berusaha mencoba dan mencoba. Seperti hal nya dalam membuat bola lampu. Nyampe berapa kali itu ya, kalau ga salah seribu kali dia mencoba, yang ke seribu baru dia berhasil.
Klien : iya sin aku akan mencoba
Kons : ya, kamu pasti bisa. Buktikan itu semua demi orang tuamu.
Klien : (tersenyum)
Kons : ya udah, tidur lagi sana, udah ,malam. Lain kali kita cerita lagi.
Klien : makasi sin.

2.      Proses konseling kedua (evaluasi)
Sore rabu 4 desember 2013
Pukul 17.30 menjelang shalat magrib
Lokasi : masjid al-jami’ah telanai pura
Klien : sin...
Kons : iya, ada cerita apa ?
Klien : ga ada Cuma rindu aja. (tertawa)
Kons : udah ga ada acara nangis lagi kan.
Klien : wah wah wah
Kons : hahaha, ga kidding keke.
Klien : Oh iya aku udah cerita sama papi mami aku (tersenyum)
Kons : alah gayamu ke, papi mamian segala. Cerita apa tu ?
Klien : masbulo “masalah buat lo”.. (tertawa). Itu loh masalah yang aku ceritain kemarin.
Kons : oh iya.. trus apa kata mereka ?
Klien : masbulo “masalah buat lo”.. (tertawa). Gaya dikit tak masalah lah sin.  Gini kan aku udah ceritain tu masalah aku sama mereka. Trus mereka bilang “ipeh itu baru sebantar hidup, IP(indeks prestasi) juga ga pernah rendah tanggung kalau mau berenti, sebantar lagi bakalan dapat gelar.”
Kons : tuh kan betul yang aku bilang, ga usah berenti. Betul tu kata orang tua mu. Jadikan orang tuamu itu sebagai motivasi terbesarmu. Karena kamu itu harapan mereka, kamu kan anak pertama.
Kons : setelah kamu cerita dengan orang tua mu. Apa kesimpulan mu ke ?
Klien : aku kuliah aja.
Kons : nah itu baru ike yang aku kenal. Penuh semangat dan riang. (tersenyum)
Klien : nah sinta, ga usah jujur amat sin. Semua orang juga tau itu (tertawa). Yuk ke masjid.

J. Kesimpulan
            Dari hasil wawancara dan melihat latar belakang klien yang tamatan man, dapat di simpulkan bahwa klien tidak memiliki motivasi yang ada dalam diri klien karena beberapa faktor yaitu di antaranya faktor lingkungan dan faktor experience yang tidak mendukung dengan apa yang klien pilih.
Sehingga untuk menumbuhkan kembali semangat klien, koselorharus memberikan banyak motivasi akan kesuksesan, ataupun motivasi lain yang dapat mebuat klien bangkit. Ataupun memberikan cerita-cerita tentang seorang takoh yang sama hal nya dengan apa yang dia rasakan. Sehingga klien mampu ssetidaknya sedikit seperti tokoh.

Kamis, 26 Desember 2013

MAKALAH TEORI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM

                    “KODEETIK DAN PELAYANAN MORAL BKI/BPI”


     DOSEN PENGAMPU :
KHOLILAH
DISUSUN OLEH :
SINTA RAHMATIL FADHILAH
SAYPUL RIDWAN

JURUSAN BIMBINGAN PENYULUHAN ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SULTHAN THAHA SAIFUDDIN
JAMBI

2013
PENDAHULUAN
1.      Latar  Belakang
Profesi sebagai seorang konselor adalah suatu profesi yang mulia karena orang yang bergelut dalam proesi ini adalah orang-orang yang memiliki tujuan untuk membantu sesamanya dalam menghadapi masalah tentang suatu hal. Pada era globalisasi ini banyak sekali terjadi berbagai macam permasalahan-permasalahan yang terjadi dimasyarakat.
 Di sinilah tugas seorang konselor atau guru pembimbing untuk ikut berperan serta dalam menanamkan nilai dan norma tersebut kepada individu-individu yang seharusnya menaati dan mematuhi nilai dan norma serta berbagai aturan yang berlaku tersebut di masyarakat.Sebelum seorang konselor dapat melaksanakan tugasnya tersebut, sudah tentu ia harus memahami apa itu nilai yang berupa konsep nilai, kemudiania juga harus memahami tentang nilai kehidupan dan terakhir ia mengetahui tentang nilai-nilai pribadi seorang konselor.
Salah satu prinsip fundamental mayoritas pendekatan konseling adalah para konselor di tuntut utnuk mengambil posisi atau sikap menerima atau tidak menghakimi dalam hubungan dengan klien . dilema bagi para konselor adalah mengizinkan diri mereka untuk menjadi sangat berkuasa dan berpengaruh tanpa memaksakan pilihan nilai dan moral mereka.[1]

2.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka yang menjadi rumusan masalah adalah :
Ø  Bagaimanakah etika dan layanan moral dalam bimbingan konseling ?


PEMBAHASAN

A.    Kodeetik dan Pelayanan Moral Bimbingan Konseling

             Kode etik merupakan etika profesi yang harus dipegang kuat oleh setiap konselor. Kode etik juga merupakan moralitas para konselor dalam menjalankan profesinya. Bagaimana kode etik profesi bimbingan dan konseling sesungguhnya, dan berkaitan dengan apa saja yang menyangkut etrika profesi yang terkait dengan bimbingan konseling dilingkungan dunia pendidikan. Hal ini karena dunia pendidikan lebih memerlukan penjelasan kode etik ini dibanding dengan bimbingan dan konseling dilingkungan lainnnya.[2]
Etika adalah suatu sistem prinsip moral, etika suatu budaya. Aturan tentang tindakan yang dianut berkenaan dengan perilaku suatu kelas manusia, kelompok, atau budaya tertentu.
Etika Profesi Bimbingan dan Konseling adalah kaidah-kaidah perilaku yang menjadi rujukan bagi konselor dalam melaksanakan tugas atau tanggung jawabnya memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada konseli. Kaidah-kaidah perilaku yang dimaksud adalah:
1.      Setiap orang memiliki hak untuk mendapatkan penghargaan sebagai manusia: dan mendapatkan layanan konseling tanpa tanpa melihat suku bangsa, agama, atau budaya.
2.      Setiap orang/individu memiliki hak untuk mengembangkan dan mengarahkan diri.
3.      Setriap orang memiliki hak untuk memilih dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambilnya.
4.      Setiap konselor membantu perkembangan setiap konseli, melalui layanan bimbingan dan koseling secara profesional.
5.      Hubungan konselor-konseli sebagai hubungan yang membantu yang didasarkan kepada kode etik (etika profesi).[3]

Kode Etika adalah seperangkat standar, peraturan, pedoman, dan nilai yang mengatur mengarahkan perbuatan atau tindakan dalam suatu nilai yang mengatur mengarahkan perbuatan atau tindakan dalam suatu perusahaan, profesi, atau organisasi bagi para pekerja atau anggotanya, dan interaksi antara para pekerja tau anggota dengan masyarakat
B.     Dasar Kode Etik Profesi Bimbingan dan Konseling

a.       Pancasila, mengingat profesi bimbingan dan konseling merupakan usaha pelayanan terhadap sesama manusia dalam rangka ikut membina warga negara Indonesia yang bertanggung jawab
b.      Tuntutan profesi, yang mengacu pada kebutuhan dan kebahagiaan klien sesuai denagn norma-norma yang berlaku  
Ø  Kualifikasi Konselor[4]
Kualifikasi konselor harus memiliki nilai, sikap, keterampilan, pengetahuan, dan wawasan dalam bidang profesi konseling :
a. Agar dapat memahami orang lain dengan sebaik-baiknya, konselor harus terus menerus berusaha mengembangkan dan menguasai dirinya. Ia harus mengerti kekurangan-kekurangan dan prasangka-prasangka pada dirinya sendiri, yang dapat mempengaruhi hubungannya dengan orang lain dan mengakibatkan rendahnya mutu layanan profesional serta merugikan klien.
b. Dalam melakukan tugasnya membantu klien, konselor harus memperlihatkan sifat-sifat sederhana, rendah hati, sabar, menepati janji, dapat dipercaya, jujur, tertib, dan hormat.
c. Konselor harus memiliki rasa tanggungjawab terhadap saran ataupun peringatan yang diberikan kepadanya, khusunya dari rekan-rekan seprofesi dalam hubungannya dengan pelaksanaan ketentuan-ketentuan tingkah laku profesional sebagaimana diatur dalam Kode Etik.
d. Dalam menjalankan tugas-tugasnya, konselor harus mengusahakan mutu kerjayang setinggi mungkin; kepentingan pribadi, termasuk keuntungan material dan finansial tidak diutamakan.
e. Konselor harus terampil menggunakan teknik-teknik dan prosedur-prosedurkhusus yang dikembangkan atas dasar wawasan yang luas dan kaidah-kaidahilmiah.
C. Nilai, Moral, dan Etika
            Nilai dalam konseling adalah  Nilai para konselor mempengaruhi nilai yang dipegang oleh klien. Kecenderungan yang ditimbulkan dalam sebagian besar studi adalah adanya hubungan antara nilai yang dipegang oleh klien dengan yang dimiliki oleh konselor(kelly, 1989).
 Nilai moral dan etika moral ‟adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Sedangkan yang membedakan hanya bahasa asalnya saja yaitu „etika‟ dari bahasaYunani dan „moral‟ dari bahasa Latin.

Etika dan pemikiran moral [5]:
            Sebgai bentuk tanggapan terhadap pertanyaan moral dan etika yang muncul dari kerja konselor, konselor dapat merujuk kepada beragam level kebijakan atatu pengetahuan moral. Kitchener (1984) mengidentifikasikan empat level pemikiran moral berbeda yang di jadikan sandaran oleh konselor, yaitu intuisi personal, panduan etik yang di bakukan oleh organisasi profesi, prinsip etik, dan teori umum tindakan moral.

Ø  Intuisi personal 
Biasanya orang-orang memiliki perasaan berkenaan dengan apa yang dirasa benar pada setiap situasi. Karena hal tersebut lebih bersifat implisit ketimbang eksplisit, respon moral atau etika personal ini paling tepat dipahami sebagai intuitif.
Ø  Kode etik yang dikembangkan oleh profesi
Pengaturan konseling oleh badan profesi di sebagian besar negara di semakin meningkat. Salah satu fungsiorganisasi profesional seperi British Association for Counselling andpsychotherapy atau British Psychological Society adalah untuk menegaskan standar etika praktik.
Penting untuk di catat bahwa kode etik ini di kembangkan bukan hanya untuk melindungi klien dari pelecehan atau mallpraktik yang di lakukan oleh konselor, tetapi juga untuk melindungi profesi konseling . komite kode etik dan kode praktik berfungsi menunjukan kepada dunia luar bahwa konseling berjalan sesuai aturan, bahwa konselor dapat di andalkan untuk memeberikan pelayanan profesional
Ø  Prinsip etik
 Pada saat dimana baik instuisi personal atau kode etik tidak dapat memberikan solusi terhadap isu moral atau etika, konselor harus membuat referensi kepada prinsip filosofis atau etika yang lebih umum.
Kicther(1984) telah mengidentifikasikan lima prinsip moral yang bekerja melalui sebagian besar pemikiran tentang isu etik[6] :
a.       Otonomi
Otonom merupakan salah satu prinsip fundamental. Di sini seseorang memiliki hal untuk bertindak dan memilih, selama dalam usahanya mencapai kebebasan ini tidak menghalangi kebebasan orang lain.
b.      Non-maleficence
Merujuk instruksi kepada semua para penolong atau penyembuh bahwa mereka tidak boleh menyaki
c.       Keadilan
Prinsip keadilan sangat memeperhatikan keadilan distribusi sumber daya dan pelayanan, berdasarkan asumsi bahwa semua orang sama, kecuali ada pengecualian rasional memperlakukan berbeda.
d.      Loyalitas
Hal ini merupakan suatu tindakan penuh keyakinan, dimana berbohong, menipu dan mengeksploitasi merupakan contoh pelanggaran utama dari kesetiaan.
Ø  Teori umum tindakan moral [7]
Aplikasi pendekatan utilitarian akan mempertimabangkan keputusan etis berdasarkan biaya dan keuntungan bagi tiap partisipan dalam suatu peristiwa misalnya: klien, keluarga, orang lain yang terlibat dan konselor sendiri.














PENUTUP
Kesimpulan
Kode etik konselor adalah serangkaian aturan-aturan susila, atau sikap akhlak yang ditetapkan bersama dan ditaati bersama oleh para konselor atau serangkaian ketentuan dan peraturan yang disepakati bersama guna mengatur tingkah laku para konselor saat proses wawancara maupun kehidupan sehari-hari sehingga mampu memberikan sumbangan yang berguna dalam pengabdiannya di masyarakat. Kode Etik konselor dibuat untuk mengatur perilaku konselor dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya serta mengatur secara moral peranan konselor di dalam masyarakat.
Ada empat pemikiran moral yang bisa di gunakan oleh kponselor adalah intuisi personal, panduan etika yang di bentuk oleh organisasi profesional, prinsip etika, dan teori umum tindakan moral.
Di antara perinsip moral yang di jadikan landasan dalam landasan kodeetik adalah otonomi, non-maleficence, keadilan dan loyalitas.
Menurut Willis ( 2004 ), yang dimaksud kualitas konselor adalahsemua kriteria keunggulan termasuk pribadi, pengetahuan, wawasan,keterampilan dan nilai-nilai yang dimilikinya yang akan memudahkannyadalam proses konseling sehingga mencapai tujuan dengan efektif.[8]








DAFTAR PUSTAKA

McLeod John. 2008. Pengantar konseling “teori dan studi kasus”. jakarta : kencana, cet. Ke-2
Salahudin Anas. Bimbingan & Konseling, CV Pustaka Setia, Bandung:2010, hal 48
S. Willis Sofyan. Konseling Individual Teori dan Praktek. Alfabeta, CV. Bandung: 2007, hal 228
http://ujangkhiyarusoleh.blogspot.com/2011/03/kualitas-pribadi-konselor.html







[1] John McLeod. Pengantar konseling “teori dan studi kasus”.( jakarta : kencana, cet. Ke-2, 2008) hlm. 428
[2] Anas Salahudin. Bimbingan & Konseling, CV Pustaka Setia, Bandung:2010, hal 48
[3] Sofyan S. Willis. Konseling Individual Teori dan Praktek. Alfabeta, CV. Bandung: 2007, hal 228
[5] Op cit John McLeod. Hlm 432
[6] Op cit John McLeod. Hlm 437
[7] Op cit John McLeod. Hlm 440
[8] http://ujangkhiyarusoleh.blogspot.com/2011/03/kualitas-pribadi-konselor.html